Monday, February 26, 2007

Gus Dur Tuduh PKS Terima Uang Dari Adang

Jakarta (ANTARA News) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku tidak ambil pusing dengan pernyataan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menyatakan PKS menerima uang sebesar Rp14 miliar dari cagub Adang Daradjatun.
"Jika kita bisa ambil pusing komentar Gusdur, maka kita bisa pusing tiap hari," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring di Jakarta, Minggu.

Pernyataan Gus Dur bahwa PKS menerima Rp14 miliar dari Adang agar dicalonkan sebagai cagub DKI itu, disampaikannya ketika menjawab pertanyaan jemaah di sela-sela acara mengaji bersama di Ciganjur, Minggu (18/2).

Sementara itu, di tempat terpisah mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara persis penyataan Gus Dur.
Namun menurut Hidayat, semua orang sudah mengetahui dan hafal bahwa pernyataan-pernyataan Gus Dur memang perlu diluruskan agar jelas bagi masyarakat.
Hidayat menegaskan bahwa PKS selalu menerima bantuan atau sumbangan legal, sesuai dengan undang-undang yang memperbolehkan menerima sumbangan, tetapi dengan batasan yang jelas baik itu sumber maupun jumlahnya.

Ketika menyinggung mengenai kabar mengenai pencalonannya pada Pemilu 2009 sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan Kapolri Jenderal Sutanto, Hidayat enggan berkomentar.
"Itu terlalu lama, 2009 masih nanti," katanya.

Lebih jauh ia menyatakan bahwa saat ini rakyat sedang susah, sehingga jangan justru dicekoki dengan isu-isu politik yang tidak ada hubungannya dengan mereka.
"Rakyat kan sedang susah, beras susah, apa-apa susah. Mereka jangan dibuat bingung dan muak dengan soal itu," demikian Hidayat Nur Wahid.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Source : http://www.antara.co.id/seenws/?id=53528

Wednesday, February 21, 2007

Gus Dur Dukung Jago Golkar pada Pilgub Riau 2008

Chaidir Anwar Tanjung - detikcom

Pekanbaru - Pilkada Gubernur Riau baru akan berlangsung akhir tahun 2008
mendatang. Namun Gus Dur sudah menyatakan siap mendukung jago Golkar, Rusli
Zainal yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur Riau.

Dukungan mantan Presiden RI ini sesuai dengan keputusan Dewan Pimpinan
Wilayah (DPW) PKB Riau yang menyatakan mendukung Rusli Zainal dalam pilgub
dua tahun mendatang itu.

"Saya kira tidak perlu saya sebutkan lagi. Karena sebelumnya sudah
disampaikan soal dukungan tersebut. Jadi sudah jelas semuanya," kata Gus Dur
dalam acara pelantikan pengurus DPW PKB Riau masa bakti 2006-2011, Senin
(4/12/2006), di Pekanbaru.

Soal dukung-mendukung ini, Gus Dur berpesan, dalam pencalonan pilgub
mendatang, jauh hari sebelum dilaksanakan jadwal kampanye hendaknya sudah
diberitahukan kepadanya.

"Karena saya ini kadang sibuk, makanya saya minta kalau nanti sudah tiba
saat kampanye jauh hari sudah disampaikan kepada saya. Nanti saya akan jadi
jurkamnya," kata Gus Dur yang disambut meriah warga PKB dan NU di Ball Room
Hotel Sahid Jl Sudirman, Pekanbaru.

Acara ini juga dihadiri langsung Gubernur Riau Rusli Zainal yang juga
menjabat sebagai Ketua Umum Golkar Riau, Sekjen PKB Lukman Edy.

Sementara itu, Sekjen PKB Lukman Edy menyebutkan dukungan politik yang
diberikan kepada Rusli Zainal karena dalam kepemimpinannya selama ini
dinilai masih berjalan dengan baik. Apa lagi ketika pencalonan Gubernur Riau
tahun 2004 silam, PKB Riau memang mengusung Rusli Zainal.

"Untuk Pilgub mendatang, kami juga sudah sepakat untuk mendukungnya kembali.
Sedangkan untuk mendukung Wakil Gubernur Riau mendatang, itu akan
disesuaikan kembali, tentunya tidak luput untuk menggandeng dari partai
lain," kata Lukman. (cha/bal)

Source : 
/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/04/time/192032/idnews/716049/idkanal/10

Gus Dur: Pidato Paus Normal-normal Saja

Nala Edwin - detikcom

Jakarta - Mantan Presiden Andurrahman Wahid menilai pidato Paus Benedictus
XVI tidak ada yang menyudutkan umat Islam. Pidato Paus dianggapnya
normal-normal saja.

"Ah nggak (menyudutkan umat Islam). Paling yang bilang begitu FPI atau FBR.
Saya membacanya normal-normal saja," cetus Gus Dur, panggilan akrab Presiden
ke-5 RI itu usai membuka diskusi panel di Hotel Atlet Century Park, Senayan,
Jakarta, Senin (18/9/2006).

Karena itu, Gus Dur mempertanyakan kenapa Paus harus dianggap bersalah,
sehingga harus minta maaf.

Permintaan maaf yang disampaikan Paus, imbuh dia, lebih karena pernyataannya
telah menimbulkan keributan. "Paus itu minta maaf karena menimbulkan ribut,
bukan subtansinya kan," tandas Gus Dur.

Dalam sebuah lawatan ke sebuah kampus di Jerman, Paus Benedictus XVI saat
diminta memberi kuliah, mengutip pernyataan seorang kaisar Kristen Ortodoks
abad XIV, Manuel II Palaelogus, yang dianggap mendiskreditkan ajaran Islam.

Pernyataan itu segera mendapat reaksi keras dari sejumlah pemimpin muslim
dunia. Bahkan telah ada yang mendesak pemutusan hubungan dengan Vatikan
sebagai dampak dari pernyataan itu. Paus kemudian menyampaikan penyesalan
dan minta maaf. (umi/sss)

Gus Dur Tolak IMF Dibubarkan

Gagah Wijoseno - detikcom

Jakarta - Gus Dur kembali membuat sensasi. Ketika sekelompok rakyat Indonesia menolak keberadaan IMF, Gus Dur justru mendukungnya.

Mantan pemimpin nomor satu Indonesia ini menolak wacana pembubaran IMF dan Bank Dunia.

"Nanti dulu saya belum ambil keputusan. Menurut saya, masih bisa diperbaiki. Sikap anti sana anti sini harus hati-hati. Salah-salah nanti dikucilkan oleh perniagaan dunia," katanya saat acara Konferensi Internasional Gerakan Rakyat Melawan Penjajah Baru di Gedung YTKI, Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (17/9/2006).

Kata dia, Indonesia masih butuh perniagaan dunia selama Indonesia masih punya kegiatan mengekspor maka pada saat itu pula kredit dari pihak lain masih dibutuhkan. "Pihak pemberi kredit kan harus butuh persetujuan IMF dan Bank Dunia," cetusnya.

Dia mengimbau agar Indonesia menguatkan perekonomiannya karena saat ini Indonesia hampir-hampir tidak menguasai perekonomian lagi. Contohnya, kemajuan perkebunan di Thailand dimana hampir semua hasil perkebunannya diekspor ke Indonesia. "Bahkan Thailand bisa mengekspor daun jeruk ke Amsterdam yang setahunnya bernilai US$ 100 ribu," ujarnya.

"Kita harus bisa meniru. Jika perekonomian kita kuat baru kita bisa keluar dari IMF dan Bank Dunia," katanya.

Namun Director of Research and Advokacy Institute Focus on Global South, Walden Bello tidak sependapat dengan pendapat Gus Dur. IMF kata dia tengah mengalami krisis keuangan. "Negara-negara di Asia Tenggara dan Amerika Selatan sudah tidak mempercayai resep perbaikan ekonomi IMF," urainya.

Beberapa waktu belakangan ini tak ada lagi yang meminjam ke IMF. Bahkan Brasil dan Argentina sudah membayar lunas utangnya, padahal IMF sudah mendapatkan masukan bunga dari hasil pinjaman

"Pembangunan berkelanjutan tidak akan ada jika organisasi ini masih ada," ujarnya.

IMF seharusnya bisa dibawa ke pengadilan kejahatan internasional. Institusi ini telah berlaku jahat yang menyebabkan orang sengsara. "Pada tahun 1999 lalu 27 juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan gara-gara resep IMF," ungkapnya.(mar/)

Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/17/time/115727/idnews/676718/idkanal/10

Membela Pancasila Adalah Jihad? Ya, Menurut Gus Dur

Gus Dur Luncurkan Buku Tentang Pluralitas

Gagah Wijoseno - detikcom

Jakarta - Lama tak terdengar, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali berkarya. Sebuah buku berjudul 'Islamku Islam Anda Islam Kita' kembali lahir dari buah pikirannya, menyapa para pembaca.

Buku yang berkisah tentang pluralitas ini, secara resmi diluncurkan di Hotel Aryaduta, Jl Prapatan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (21/9/2006). Peluncuran buku ini berbarengan dengan perayaan ulang tahun ke-2 Wahid Institute.

Dalam sambutannya, Gus Dur menjelaskan bahwa buku ini berisi tentang keberagaman. "Buku ini berisi tentang pluralitas yang menjadi ruh saya," ucap Gus Dur.

Dia menambahkan, Indonesia tidak bisa menjadi negara Islam karena bangsa di Indonesia berasal dari berbagai macam arah dan sudut. Selain itu, tambah Gus Dur, masalah jihad juga menjadi sorotannya.

"Jihad tidak selalu membela Islam, karena membela pancasila juga bisa disebut sebagai jihad," cetus Gus Dur.

Dia menceritakan, 2 bulan setelah proklamasi, PBNU mengeluarkan resolusi jihad membela Indonesia dari serangan lawan. "Padahal Indonesia adalah negara Pancasila," tegasnya.

Pada acara peluncuran buku yang dihadiri sekitar 200 tamu undangan tampak hadir sahabat-sahabat Gus Dur antara lain Jaya Suprana, Wimar

Witoelar, Menakertrans Erman Suparno, dan Cagub DKI Jakarta Sarwono Kusumaatmadja.

Acara ini berlangsung dalam suasana santai. Sesekali para tamu tergelak mendengar guyonan Gus Dur saat memberi sambutan.

Dalam buku setebal 410 halaman ini, Gus Dur pun mencoba membahas masalah sosial dari perspektif islam yang luas dan penuh toleransi. Beberapa hal yang dibahas ialah masalah ekonomi kerakyatan, pendidikan, kekerasan, dan terorisme yang semuanya terbagi dalam 7 bab.

Rencananya buku terbitan Wahid Institute ini akan diterbitkan dalam 7 bahasa yang berbeda yaitu Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan Cina. Namun sama seperti pengarang lainnya, Gus Dur pun masih perlu melakukan negosiasi.

"Ada yang sudah saya lepas, ada yang belum. Soal tawar menawar honorarium itu biasa," candanya yang diikuti gelak tamu undangan.(ndr/Indra Subagja)

Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/22/time/001936/idnews/680458/idkanal/10